Fomo Lari, Salahkah?

Fomo Lari, Salahkah?
Fear of Missing Out atau yang biasa kita kenal dengan FOMO adalah suatu fenomena yang marak terjadi saat ini. Fomo merupakan perasaan takut atau khawatir ketinggalan sesuatu yang sedang tren atau banyak dilakukan oleh orang lain. Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya tidak punya niat untuk melakukan sesuatu, akhirnya ikut-ikutan, bukan karena keinginan pribadi, tapi karena takut tertinggal.

Fomo dalam dunia lari juga sering kita temukan. Tak sedikit orang yang mulai lari bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena ikut-ikutan dan tidak mau ketinggalan.

Meski terkadang dimaknai negatif oleh sebagian orang, ternyata Fomo Lari tidaklah sepenuhnya demikian. Bahkan, dalam beberapa hal, Fomo Lari bisa berdampak positif bagi para pelakunya, selagi memang dalam batasan yang wajar.

Kapan Fomo Lari Bisa Berdampak Positif?

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa Fomo Lari tidak selalu dimaknai negatif. Ada beberapa dampak positif bagi orang-orang yang ikut-ikutan tren lari saat ini, diantaranya:

Menjadi Konsisten Berolahraga

Ikut-ikutan itu tidak selalu negatif, terutama berhubungan dengan kegiatan olahraga seperti lari. Saat awalnya mungkin kita termasuk orang yang mageran dan malas berolahraga. Namun, setelah melihat teman-teman kita aktif dalam dunia lari, sering posting kegiatan lari, posting stravanya, posting saat mengikuti race, kita jadi tertarik untuk ikut-ikutan.

Hal ini, selagi masih dalam batasan, adalah hal yang wajar dan baik. Karena merupakan langkah awal untuk meninggalkan sesuatu yang tidak produktif dan mengisinya dengan sesuatu yang lebih produktif. Terlebih lagi saat kita konsisten dalam menjalankannya. Dalam batasan yang wajar, tentu akan membentuk disiplin dan rutinitas yang sehat.

Bergabung dengan Komunitas dan Menambah Relasi

Tak sedikit orang yang ikut-ikutan lari kemudian bergabung dengan komunitas lari yang ada di kotanya. Dengan semakin meningkatnya minat orang-orang terhadap olahraga lari, maka semakin meningkat pula komunitas-komunitas lari yang ada.

Banyaknya komunitas lari ini memberikan kita peluang untuk menambah relasi dan pertemanan. Hal ini tentu dapat berdampak positif bagi kita. Kehadiran teman lari terkadang memberikan dukungan positif kepada kita, terutama saat sudah mulai merasa jenuh dan berkurangnya semangat.

Selain itu, kehadiran teman khususnya yang lebih berpengalaman dari kita dapat memberikan beberapa program latihan. Hal ini tentu dapat membuat kegiatan lari kita tidak monoton dan dapat meningkatkan performa, terutama bagi para pelari yang mengejar personal best.

Ikut Race dan Memperluas Pengalaman

Saat telah terbiasa lari, biasanya kita akan tertarik untuk mengikuti race. Kegiatan ini dapat mendorong kita untuk mencoba tantangan baru, mencoba rute yang berbeda, atau bahkan mencoba ikut race di luar kota.

Dari yang awalnya penasaran, akhirnya membuka wawasan serta keberanian akan hal-hal baru. Selain itu, mengikuti race juga dapat memperluas jaringan sesama pelari. Dari sinilah, para pelari termotivasi untuk terus berkembang.

Kapan Fomo Lari Jadi Masalah?

Selain memberikan dampak positif, ternyata Fomo Lari juga dapat memberikan dampak negatif juga loh! Mungkin hal ini juga sering dialami oleh banyak orang.

Lari Bukan Karena Keinginan Sendiri, Tapi Takut Kalah dari Orang Lain

Motivasi utama untuk berlari seharusnya datang dari dalam diri sendiri. Namun, terkadang sebagian pelari menjadikan orang lain sebagai standar dan merasa tidak ingin kalah. Sehingga, lari yang seharusnya dinikmati malah menjadi tekanan. Misalnya, seseorang yang lari setiap hari bukan karena konsistensi, melainkan agar terlihat lebih hebat dari orang lain, atau agar miliage per minggu lebih besar.

Sikap merasa harus lebih hebat dari orang lain adalah hal yang harus dihindari oleh para pelari. Kita boleh saja memiliki target dalam berlari, misalnya pace, miliage per minggu atau lainnya. Tapi, jadikan itu sebagai program agar kita konsisten, bukan agar terlihat lebih hebat dari orang lain.

Terlalu Memaksa Tubuh

Terlalu memaksa tubuh saat berlari juga sering dialami oleh banyak orang. Sehingga orang-orang yang terjebak dalam masalah ini sering menghiraukan sinyal yang diberikan oleh tubuh. Hal ini dapat berakibat fatal.

Banyak orang yang memaksakan untuk selalu berlatih dengan intensitas tinggi tanpa diselingi dengan istirahat yang cukup. Meskipun sudah merasa lelah, tapi tubuh dipaksa untuk selalu berlatih. Bukannya performa yang akan meningkat, justru cedera yang akan dialami dari intensitas latihan yang berlebih (overtraining).

Terlalu memaksa tubuh juga dapat berdampak lebih fatal lagi, yaitu kemat*an. Tak sedikit kasus kemat*an dari para pelari saat sedang berlari atau saat sedang mengikuti race. Meskipun tubuh sudah memberikan sinyal, terkadang para pelari bersikukuh untuk tetap berlari dengan dalih mengejar miliage atau tidak enak dengan teman larinya.

Memang, ada saatnya kita melatih tubuh sedikit lebih keras agar performa semakin berkembang. Tapi, kita harus sadar diri dan mampu mengukur kapasitas tubuh. Jangan sampai karena ambisi yang berlebih, kita mengabaikan kesehatan dan keselamatan tubuh kita.

Latihan Kehilangan Makna

Sejatinya, berlari itu bukan untuk menjadi ajang pembuktian di media sosial. Memang, tidak ada salahnya kita posting kegiatan lari di media sosial, karena hal itu juga bisa berdampak positif bagi orang lain. Teman-teman kita mungkin akan termotivasi mengikuti langkah kita untuk rajin berolahraga.

Namun, saat tujuan utama kita berlari adalah untuk mendapatkan like, komentar atau pengakuan dari orang lain, saat itulah aktifitas lari kita akan kehilangan makna dan arah. Singkatnya, berlari hanya untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri.

Kesimpulan

Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa Fomo Lari tidak selalu dimaknai negatif selagi masih dalam batas wajar. Justru hal tersebut dapat berdampak positif terhadap kesehatan, menambah pertemanan dan relasi, menambah wawasan serta pengalaman baru.

Namun, motivasi utama untuk memulainya haruslah berasal dari diri sendiri, tidak terpengaruh oleh orang lain yang dapat menyebabkan tekanan pada diri sendiri, melakukan latihan yang berlebih (overtraining), dan menjadikannya kehilangan makna dan arah.

Jadi, Fomo Lari tidaklah salah. Kuncinya adalah pada mindset kita, apakah mau ikut-ikutan karena ingin berkembang atau hanya karena takut tertinggal?

Posting Komentar untuk "Fomo Lari, Salahkah?"